Sally Giovanny – Miliarder Muda dan Cantik Pemilik Batik Trusmi

By Mirza M. Haekal on March 2nd, 2019 11:14 AM in Blog



Lahir pada 26 September 1988 bukan merupakan halangan bagi Sally Giovanny untuk menjadi miliarder. Berkat kegigihan, usaha keras dan tekad yang kuat, ia sudah memiliki Toko Grosir Batik Trusmi dengan luas mencapai 1, 5 hektar dan menjadikannya sebagai toko batik terluas di Indonesia, lho!

Nah, pasti Anda penasaran dan ingin tahu bukan bagaimana kisah sukses Sally Giovanny hingga menjadi seperti sekarang? Check this out!

Siapa itu Sally Giovanny?

Sally lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah dan saat ia berusia 6 tahun, orangtuanya becerai sehinnga membuatnya menjadi anak broken home. Saat itu, itu tinggal bersama dengan adik dan ibunya yang membuka warung sembako dan hanya mampu membiayai kehidupan sehari-hari keluarga kecilnya.

Lulus SMA pada umur 18 tahun, Sally tak bisa lanjut kuliah karena keterbatasan ekonomi. Ia terpaksa menerima kenyataan pagit bahwa ia tak seberuntung teman-temannya yang lain yang bisa melanjutkan pendidikan mereka.

Agar meringankan beban hidup keluarganya, Sally meminta restu kepada orang tua untuk menikah walau usianya masih sangat muda. Ia tak ingin lagi menjadi beban bagi keluarga kecilnya. Awalnya, orang tua Sally tak mengijinkan, tapi mereka akhirnya luluh dan merestui pernikahannya,

Membangun Usaha Bersama Suami

Pada tahun 2006, Sally dan sang suami—Ibnu Riyanto, sepakat untuk berwirausaha. Ia mendapatkan modal dari amplop pemberian tamu saat mereka menikah dengan jumlah kurang lebih Rp 37 juta.

Usaha pertama mereka adalah kain mori atau kain putih sebagai bahan batik. Mereka membeli kain tersebut untuk dijual kembali dengan modal Rp 15 juta. Keuntungan yang mereka dapatkan saat itu hanya berkisar Rp 8 ribu perlembar kainnya.

Setelah sektiar 5 bulan berjalan, pasangan muda tersebut mengalami kerugian. Mereka menghabiskan setidaknya Rp 3 juta dari uang modal untuk kebutuhan mendadak seperti biaya berobat ataupun kebutuhan sehari-hari lainnya.

Mertua Sally menyarankan untuk menggunakan kain yang tersisa untuk dijadikan batik. Berbekal modal yang tersisa Rp 12 juta dan kain yang masih sisa, ia menyerahkan kepada pengrajin batik kecil di daerah tempat tinggalya, yakni Trusmi.

Setelah itu, mereka mulai menawarkan batik tersebut ke pasar-pasar di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti di Jakarta, Bandung hingga Surabaya. Ia bersama suami tak kenal lelah dan berkeliling ke tiga kota tersebut demi menjual Batik Trusmi.

Ia juga meminjam mobil dari saudaranya untuk berjualan di Tanah Abang bersama suaminya. Sambil berjualan, ia juga aktif mencari-cari indomrasi tentang model batik yang sedang banyak diminati waktu itu.

Berbekal prinsip, “lebih baik dikomplain harga dibandingkan mutu produk,” Sally memutuskan untuk memproduksi batik dengan motif unik dan berkualitas tinggi dengan harga yang lebih mahal.

Toko pertama yang didirikan Sally bersama suami hanya memiliki dua orang karyawan yang membantu mereka di toko. Namun, setelah sekitar 2 tahun berjalan, toko tersebut menjadi sangat ramai sehingga permintaan pelanggannya tak mampu dipenuhi.

Hal tersebut membuatnya membuka toko kedua yang berjarak tak terlalu jauh dari toko pertama. Usaha batik Sally melejut di tahun 2009 karena sedang ngetren-nya penggunaan batik dan di saat yang sama Cirebon sedang ramai sebagai daerah tujuan wisata.

Hingga akhirnya pada tahun 2011, Sally mempunyai empat ruang pamer batik di Cirebon bernama Batik IBR, Batik Trusmi (lalu ganti nama menjadi Batik Nayla), Batik Raja dan Batik Trusmi. Jumlah karyawannya lebih dari 850 orang dan lebih dari 500 pengrajin batik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *