Jan Koum – Pencipta Aplikasi WhatsApp dengan Masa Lalu Menyedihkan

By Mirza M. Haekal on March 16th, 2019 6:13 AM in Blog



Dari anak-anak hingga orang dewasa sekalipun, sekarang sudah menggunakan WhatsApp sebagai bagian dari rutinitasn sehari-hari. Namun, tahukah Anda siapa orang luar biasa yang berhasil menciptakan WhatsApp? Ia adalah Jan Kounn, seorang pria kelahiran 24 Februari 1976 di Kiev, Ukraina.

Bagimana kisah Jan Koum membuat WhatsApp hingga menjadi aplikasi chat paling populer di dunia dan berhasil dibeli Facebook dengan harga luar biasa yakni US$ 16 miliar atau sekitar Rp 220 triliun saat itu. Wow!

Jan Koum sendiri tak lahir dari keluarga yang serba ada, lho. Ayahnya saat itu mempunyai pekerjaan sebagai manajer konstruksi dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Praktis, ayahnya yang menjadi tulang punggung satu-satunya.

Kondisinya saat itu sungguh menyedihkan, lho dikarenakan Jan Koum hidup di tengah-tengah gejolak politik dan merambahnya gerakan anti Yahudi di Ukraina.

Bahkan, beberapa fasilitas pun serba terbatas seperti listrik dan air, sehingga untuk ia mandi pun, harus mengantre di tempat mandi umum yang ada.

Melihat risiko yang semakin tinggi, Jan Koum dan keluarga lalu memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2990 dan tinggal di daerah Mountain View.

Saat itu, ia sendiri masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama ibu dan neneknya, sedangkan sang ayah masih berada di Ukraina. Pada tahun 1997, ayah dari Jan Koum meninggal dunia di Ukraina.

Walaupun ia berhasil lolso dari gejolak politik dan gerakan yang mengancam keluarganya, hidup yang dijalani Jan Koum bukan berarti lancar-lancar saja, lho. Ia harus menggantikan peran sang ayah bersama ibunya agar bisa bertahan hidup di kerasnya Amerika Serikat.

Jan Koum sempat bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di sebuah toko, sedangkan ibunya bekerja sebagai baby sitter. Namun, tetap saja, keduanya masih tak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hidup serba kesusahan yang dialami Jan Koum membuatnya harus menggantungkan hidup pada subsidi makan yang ia terima dari pemerintah setempat yang sebenarnya ditujuakn kepada para gelandangan atau tunawisma.

Saat waktu istirahat pun, ia seringkali hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Segala macam pekerjaan sudah pernah ia jalani ketika pertama kali pindah ke Amerika Serikat dan hanya cukup untuk menyambung hidupnya saja.

Walaupun ia punya hidup yang susah, Jan Koum adalah murid yang cerdas dan sangat menyukai dunia komputer—yang ia pelajari secara otodidak dari buku-buku bekas, lho.

Ia melanjutkan studi di san Jose University dan ia juga bekerja paruh waktu untuk membayar uang kuliahnya sebagai penguji sistem keamanan komputer di Ernst & Young.

Keahilan dan minatnya dalam komputer tak pernah padam, sehingga membuatnya berhasil diterima di Yahoo sebagai engineer. Pada tahun 2007, ia keluar lalu melamar di Facebook namun sayangnya, ia ditolak. Hal ini memacu tekadnya lebih besar lagi.

Sekarang, siapa yang menyesal, setelah akhirnya beberapa tahun kemudian Facebook harus membeli aplikasi besutan dari seseorang yang ditolaknya dengan harga yang luar biasa fantastis?

Menurut Anda, pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari Jan Koum sebagai seorang pendiri WhatsApp yang sangat sukses ini? Silahkan tinggalkan komentar di bawah, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *